Hukum Jualan Dropship Menurut Syariat Islam

Dropship adalah metode penjualan yang sedang trending saat ini. Pada umumnya perdagangan hanya melibatkan dua pihak yaitu penjual dan pembeli. Pada metode dropship, perdagangan melibatkan tiga pihak yaitu penjual, dropshipper, dan pembeli. Penjual adalah pemilik barang yang akan dijual. Dropshipper adalah orang yang tidak memiliki barang tapi bersepakat dengan penjual untuk menjualkan barangnya kepada pembeli. Biasanya dropshipper hanya bermodalkan spesifikasi barang dan foto produk. Oleh karena itu, perdagangan dengan cara dropship lebih cocok untuk perdagangan online. Bagaimana hukum jualan dropship dalam tinjauan syariat Islam? Mari kita simak uraian berikut.

hukum jualan dropship

Menjual Barang yang Tidak Dimiliki

Ajaran Islam tentang perdagangan sangatlah mulia. Salah satunya adalah larangan menjual barang yang tidak dimiliki. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

Wahai Rasulullah, ada seseorang yang mendatangiku lalu ia meminta agar aku menjual kepadanya barang yang belum aku miliki, dengan terlebih dahulu aku membelinya untuk mereka dari pasar?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Janganlah engkau menjual sesuatu yang tidak ada padamu.” (HR. Abu Daud).

Dalam hadits di atas Rasulullah melarang menjual barang yang belum dimiliki. Menjual barang yang tidak diketahui kualitas dan kecacatannya sangat dilarang dalam Islam.

Solusi Perdagangan Dropship

Dropshipping adalah solusi yang sangat efektif untuk memangkas rantai distribusi yang mahal. Agar perdagangan secara dropship menjadi halal maka ada beberapa syarat yang harus dipenuhi.

  1. Dropshipper bersepakat menjalin kerja sama dengan penjual.
  2. Dropshipper hanya bertindak sebagai pengiklan produk, bukan sebagai penjual.
  3. Dropshipper mendapatkan spesifikasi lengkap tentang produk dari penjual kemudian memberikan spesifikasi itu kepada pembeli tanpa dikurangi atau dilebihi.
  4. Dropshipper tidak boleh membuat harga sendiri. Harga dibuat oleh penjual yang disepakati oleh dropshipper.
  5. Dropshipper boleh menerima pembayaran yang akan diteruskan kepada penjual.
  6. Dropshipper boleh mendapatkan fee dari penjualan produk.
  7. Dropshipper harus bertanggungjawab menerima komplain dari pembeli jika terdapat kekurangan pada produk yang dijual.

Jadi, pada dasarnya dropshipper bukanlah penjual. Karena penjual harus memiliki barang sedangkan dropshipper tidak memiliki barang. Dropshipper hanya bertindak sebagai pengiklan dan wakil dalam menerima pembayaran.

Demikian tadi ulasan tentang hukum jualan dropship. Semoga bermanfaat untuk menambah pengetahuan bisnis.

Baca juga : Cara Jualan Seperti Nabi Muhammad



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *